Tantangan Meningkatkan Literasi di Indonesia 

Indonesia sering disebut sebagai negara darurat literasi, mengingat UNESCO yang menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% menunjukkan betapa rendahnya tingkat literasi kita. Oleh karena itu tantangan meningkatkan literasi di Indonesia semakin berat.

Berbagai macam kericuhan sering terjadi akibat kurangnya pemahaman pengguna media sosial dalam mencerna informasi. Tidak jarang kita temukan warganet yang ribut di kolom komentar sebuah unggahan hanya karena kurang memahami konteks. Lebih lucu lagi ketika ada pengumuman, masih saja ada yang bertanya karena malas membaca.

Seperti apa tantangan meningkatkan literasi di Indonesia? Berikut ini hal-hal yang perlu dipahami oleh kita.

Keterbatasan Ekonomi

Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan data persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2024 mencapai 0,83%, yang sebagian besar tidak dapat mengenyam pendidikan tingkat tinggi.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga kurang mampu akan sibuk membantu pekerjaan orang tuanya dan tidak bisa membeli buku atau memiliki waktu untuk membaca buku di perpustakaan. 

Hal ini jadi salah satu faktor terbesar yang menyebabkan rendahnya literasi di Indonesia.  Peran pemerintah dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk mengatasi hal ini dengan menyediakan bacaan gratis pada masyarakat kurang mampu.

Akses Bacaan Belum Merata

Di kota besar, toko buku tersedia hampir di setiap jalan, perpustakaan daerah yang dilengkapi berbagai macam buku bacaan, dan kafe-kafe yang juga menyediakan buku untuk dibaca. Sementara di daerah yang jauh dari kota, seperti di Pasangkayu Sulawesi Barat  tidak ada toko buku bacaan.  

Sebagian besar masyarakat di pinggiran hanya berfokus pada pekerjaan, seperti memancing ikan di laut atau berjualan di pasar yang tidak memungkinkan untuk membaca buku.

Kurangnya Sosialisasi Penggunaan AI (Artificial Intelligence)

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan yang kini telah menjadi bagian dari berbagai aspek kehidupan memperparah tingkat literasi kita. Kemudahan yang disediakan dalam hal mengolah data membuat orang lebih memilih  menggunakan AI untuk segala kebutuhan.

Mereka tidak perlu sibuk membaca buku yang terdiri dari banyak halaman untuk mempelajari sesuatu, tetapi cukup bertanya pada AI dan menyalinnya tanpa perlu repot membaca keseluruhan. Hal ini dapat mengurangi pemahaman materi, jika hanya didapatkan dari membaca sekilas hasil pencarian AI, karena tools ini hanya mengambil poin penting dari sebuah tulisan tanpa membahasnya lebih dalam.

Kurangnya Kebiasaan Membaca di Rumah

Peran keluarga dalam mendukung kebiasaan membaca sejak dini di rumah sangat kurang, karena tidak semua orang tua memahami betapa pentingnya kebiasaan membaca sejak dini pada anak. Kesibukan dalam bekerja bisa jadi alasan para orang tua tidak memiliki waktu untuk mengajarkan kebiasaan membaca. 

Hal ini dapat diatasi dengan sosialisasi oleh guru maupun pihak terkait untuk menekankan betapa pentingnya kebiasaan membaca sejak dini kepada orang tua. Tanamkan pada anak bahwa membaca tidak hanya menjadi media pembelajaran di sekolah, tetapi juga bisa menjadi hobi yang menyenangkan, hiburan di kala santai, dan membantu meningkatkan kemampuan diri dalam berbagai bidang di masa depan.

Perkembangan Teknologi

Semakin berkembang teknologi yang memberi kemudahan dan kenyamanan, maka akan membuat orang-orang lebih suka menghabiskan waktu untuk melihat video atau scroll postingan media sosial daripada membaca buku. 

Itulah beberapa penyebab rendahnya literasi di Indonesia yang menjadi tantangan tersendiri untuk kita semua. Kita bisa memulai kebiasaan dari diri sendiri untuk meningkatkan literasi negeri ini hingga menyalurkan pada orang terdekat. Jika Anda membutuhkan konten medsos yang dibutuhkan untuk edukasi dan menginspirasi untuk branding bisnis, silakan hubungi tim Pruf Ritz segera, ya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top